Buku Kumpulan Puisi “Ngapak Kepenak Nemen” Menguak Punahnya Bahasa Lokalan

Budayawan Pantura Atmo Sidik. /Arah Pantura

ARAH PANTURA, BREBES – Guna mempertahankan bahasa ibu (lokalan-red) suatu daerah, berbagai cara dilakukan. Salah satunya oleh mereka pegiat literasi di Kabupaten Brebes.

Hal ini saat peluncuran buku kumpulan puisi berjudul “Ngapak Kepenak Nemen” yang dilanjutkan dengan diskusi para pegiat literasi yang digelar di Pendopo Kanjengan Brebes, Sabtu (12/3) kemarin.

Penulis buku kumpulan puisi “Ngapak Kepenak Nemen” uswadin mengatakan buku karyanya menceritakan sekaligus mendokumentasikan transformasi yang ada di Kabupaten Brebes.

“Misalnya soal daerah pertanian yang berubah menjadi daerah industri, pabrik gula (PG) Banjarmatma yang kini beralih fungsi menjadi rest area Jalan Tol Pejagan – Pemalang” ujarnya.

Perubahan sebagian wilayah, tutur penulis ini akibat tuntutan perubahan di jaman sekarang ini.

“Meski adanya perubahan wilayah tapi tidak otomatis harus menghilangkan bahasa ibu,” ungkapnya

Sementara Budayawan Pantura, Atmo Tan Sidik, mengaku prihatin atas punahnya bahasa lokalan tergerus oleh jaman.

“Kita prihatin karena bahasa lokalan semakin ditinggal. Tidak hanya di Brebes bahasa lokalan yang jarang dipakai juga terjadi di berbagai belahan dunia,” jelas Mantan Kabag Humas Brebes ini.

Deputi IV Kepala staf Kepresidenan, Juri Ardiantoro, yang hadir dalam acara tersebut, memandang ada kontradiksi dalam upaya mempertahankan bahasa ibu yang kerap dilakukan banyak pihak.

“Untuk mempertahankan bahasa ibu atau bahasa Lokalalan, perlu langkah kongkrit yang dilakukan pemerintah daerah,” harapnya.

Juri Ardianto, pria kelahiran Desa Lengkong Kabupaten Brebes itu membeberkan ada berbagai cara untuk mempertahankan bahasa ibu.

“Semisal membuat kurikulum tentang bahasa ibu di sekolah-sekolah, termasuk peran serta orang tua untuk bisa mengenalkan dan mempraktekkan ke anak-anaknya,” bebernya.

BACA JUGA :  Minyak Goreng Curah Langka, Pedagang Keluhkan Distributor Jual Lebih Dari HET

Bupati Brebes Idza Priyanti dalam sambutannya menyampaikan seminar dan bedah buku ini, dapat menambah khazanah literasi serta pengetahuan agar lebih mencintai bangsa serta daerahnya sendiri.

“Harapannya, melalui seminar dan bedah buku ini dapat menjadi satu refleksi besar bersama untuk senantiasa melakukan upaya-upaya pelestarian bahasa daerah atau bahasa ibu,” pungkasnya.***

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.