Chefis Resto Cirebon Gelar Diskusi Merajut Kebhinnekaan Dalam Perbedaan

ARAH PANTURA, Cirebon – Chefis Resto Cirebon di Jalan Ampera Raya Nomor 22 Kota Cirebon menggelar diskusi bertema Merajut Kebhinnekaan dalam Perbedaan. Diskusi yang dihadiri oleh ratusan pemuda, ormas, OKP dan lintas iman ini menghadirkan narasumber yang aktif menyuarakan Kebhinekaan dan toleransi di Cirebon diantaranya Romo Djunawi, Richard Dharma Pekasa, Bang Haq, dan Prof. Dr. H. Dedi Jubaedi M.Ag.

Diskusi yang digelar pada Sabtu (1/6/2024) malam ini berlangsung komunikatif dan cukup interaktif. Audien yang hadir aktif bertanya serta menyimak dengan baik apa yang disampaikan narasumber.

Owner Chefis Arabian Cafe and Resto, Sefi Khirrijul Yaman mengatakan, Indonesia berdiri di tengah perbedaan, latar belakang yang sangat majemuk suku, agama dan bahasa. Perbedaan bukan untuk dibeda-bedakan tapi menjadi kelebihan Bangsa Indonesia karena dalam perbedaan ada kekuatan. “Indonesia terdiri dari suku, agama dan bahasa yang beragam. Perbedaan menjadi pemersatu dan kekuatan bangsa Indonesia,” kata Kang Sefi sapaan akrabnya.

Sementara, salah satu narasumber dalam diskusi Merajut Kebhinekaan dalam Perbedaan yakni Romo Djunawi mengatakan, jika kita hidup bersama dan rukun bisa selalu bersatu maka itu adalah cara hidup yang sangat mulia. Cara hidup yang terpuji yang didambakan bagi umat manusia.

“Malam hari ini tentunya ada yang memprakarsai. Memang kebersamaan itu kodrat dan Kebhinekaan juga kodrat, merajut kebersamaan dalam Kebhinekaan yaitu memang kodrat. Kita memang dikodratkan untuk berbeda, oleh karena itu mari kita rajut perbedaan ini menjadi kebersamaan yang indah,” ujarnya.

Narasumber lainnya Dedi Jubaedi yang akrab disapa Ayah Dedi menyatakan, perbedaan itu sangat indah. Kebhinekaan menjadi landasan yang baik dalam merajut perbedaan. “Perbedaan itu indah. Perbedaan tentunya tidak menjadi alasan untuk tidak bersama,” tuturnya.

BACA JUGA :  Seruni dan Chefis Resto Gelar Talk Show 'Mendeteksi Sihir', Hadirkan Ustadz M. Faizar

Ia menambahkan, pada dasarnya manusia itu tidak mudah untuk bersatu dalam perbedaan. Tapi, karena adanya cinta dan welas asih maka perbedaan menjadi dasar untuk saling menyayangi antar manusia.

“Walaupun manusia itu sulit untuk bersatu dalam perbedaan, di tengah mereka ada cinta kasih dan sayang. Itulah dasar yang kuat untuk kebersamaan, karena kita tidak bisa berdiri sendiri satu sama lain pasti saling membutuhkan apapun latar belakangnya,” pungkasnya. (ard)

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *