Lestarikan Bahasa Daerah, Lomba Baca Puisi dan Pidato Dialek Tegalan

Penyerahan juara lomba puisi dan pidato bahasa Tegalan, /ist

 

ARAH PANTURA, TEGAL – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkot Tegal berkolaborasi bersama dengan Kantor Bea Cukai setempat, menggelar lomba cipta baca puisi dan pidato yang diikuti dari mulai kalangan pelajar, ASN hinga masyarakat umum yang ada di Kota Tegal dan sekitarnya, yang perlombaannya digelar di Gedung Taman Budaya Kota Tegal, Selasa (07/12) kemarin

Namun, ada salah syarat yang dilombakan yakni peserta harus menggunakan dialek bahasa Tegalan. Panitia sengaja gunakan bahasa Tegalan karena dikandung maksud untuk melestarikan bahasa lokalan sekaligus kearifan lokal yang saat ini cenderung semakin kurang diminati oleh kaum milenial.

Salah satu juri, Atmo Tan Sidik mengatakan saat ini banyak bahasa lokal di dunia yang sudah mulai musnah, jumlahnya semakin tahun semakin banyak.

“Dari semua hasil penelitian menunjukkan kecenderungan bahasa lokal di seluruh dunia sudah banyak yang musnah,” ujarnya

Atmo menyebut jika gelaran lomba cipta baca puisi dan pidato dengan menggunakan bahasa tegalan, merupakan bagian dari upaya melestarikan bahasa lokal yang ditengarai sudah mulai tidak diminati kawula muda.

“Apalagi para kaum milenial yang sebenarnya berasal dari Kota Tegal dan sekitarnya seperti Kabupaten Brebes dan Kabupaten Tegal yang bahasanya masih serumpun bahasa tegalan, sudah jarang yang menggunakan bahasa tegalan,” ucap Atmo Tan Sidik yang sekaligus budayawan pantura.

Baca juga:Kejam! Bayi Baru Lahir di Bumiayu Dibuang di Pinggir Jalan

Atmo menjelaskan bahasa lokalan meskipun kadang diangggap kasar, namun bagi masyarakat setempat yang dijadikan sebagai bahasa sehari-hari, bukanlah sebagai bahasa yang kasar.

“Terlebih dengan menggunakan bahasa lokalan akan bisa membangkitkan semua nostalgia tentang asal usul dari mana mereka,” paparnya.

Juri lainnya, Maufur yang juga Mantan Wakil Wali Kota Tegal, mengapresiasi atas digelarnya lomba puisi dan pidato dengan menggunakan bahasa daerah, yang dalam hal ini adalah bahasa Tegal.

Maufur berharap acara-acara yang terkait dengan upaya melestarikan bahasa atau budaya lokal yang kerap disebut sebagai kearaifan lokal agar banyak dilakukan pihak lain.

“Agar kita tidak kehilangan tradisi lokalan yang saat ini mendapat gempuran dari budaya global,” ucap Maufur yang pengarang sejumlah buku bahasa Tegalan.

Salah seorang pemenang lomba pidato bahasa Tegal M. Husni Iskandar, menuturkan tertarik mengikuti pidato dengan bahasa lokalan karena merasa prihatin banyak generasi muda yang sudah tidak banyak mengetahui bahasa lokalan.

“Para kaum milenial asal Kota Tegal, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Brebes terutama yang merantau keluar daerah, sudah banyak yang tidak menggunakan bahasa lokal mereka,” ujar Husni yang pernah memerankan sebagai Sakyad dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji yang disiarkan salah satu TV swasta.***

 

Baca juga:Menang 3-0, Nasib Persab Brebes Lolos di Piala Soeratin Tergantung Pertandingan Lain

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *