Sulit Produksi, Batik Kriyan Minim Perajin


ARAHPANTURA, CIREBON, — Hari Batik Nasional 2021 harusnya menjadi moment pengembangan batik Kota Cirebon, Namun justru Galery Batik Story’ Kriyan kondisinya memprihatinkan, dari puluhan pengrajin batik kini hanya tersisa 5 pengrajin saja.

Mirisnya produksi, membuat koleksi batik di Batik Kriyan hanya tersisa beberapa kain batik saja karena sebagian banyak sudah terjual. Potensi pasar Batik Kriyan sebenarnya sangat tinggi, namun sayang tidak dibarengi dengan produksi perajin yang ada.

Batik Story’ Kriyan adalah sebuah galery batik tulis, yang menggunakan pewarna alami satu-satunya di Kota Cirebon. Galery ini dikelola oleh arts & culture education service asal Korea.

Pengurus Batik Story’ Kriyan, Rudi Santoso, menjelaskan selama pandemi minat dan produksi perajin batik menurun, bahkan dari puluhan perajin kini hanya tersisa 5 orang perajin saja.

“Awalnya pelatihan ada sekitar 22 orangan, semakin berjalannya waktu lama kelamaan tinggal 5, awalnya kita kurang paham soal batik dan kurang maskimal hasilnya sampai layak jual,” ujarnya.

Baca Juga: Miris, Kisah Janda dan 2 Anaknya di Brebes Tinggal di Rumah Nyaris Roboh Karena Bantuan Dihentikan

Melihat minat pembeli pada kain batik yang dibuat oleh perajin di galery batik Story’ kriyan berkurang, para perajin batikpun membuat inovasi dengan membatik di sarung bantal yang dibuat manual.

“Kita buat sarung bantal, taplak meja, tas, dan masker, pemasaran masih lokal mengandalkan tamu-tamu yang datang, misal ada pejabat atau dinas yang berkunjung, kemarin itu ada pesanan dari ibu wakil walikota dan Disnaker,” katanya.

Pesanan batik story’ dikatakan Rudi, paling jauh diantar ke Jogjakarta. Namun ada rencana batik kriyan buatannya akan dikirim ke Korea, hal tersebut harus ditunda sebab terhalang pandemi.***

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *