Setelah Istrinya, Kini Suaminya Yang Hanyut Saat Menyeberangi Sungai Ditemukan

Proses evakuasi korban tenggelam di Sungai Cikamuning Kecamatan Ketanggungan. /Arah Pantura

ARAH PANTURA, BREBES – Setelah menemukan jasad Karsem (48) tahun pada Minggu (14/2) yang lalu. Kini warga, TNI-Polri dan Tim SAR Kabupaten Brebes menemukan jasad suaminya Abu Yasid (69) yang hanyut di Sungai Cikamuning Desa Sindangjaya Kecamatan Ketanggungan

Korban Abu Yazid ditemukan pada hari ketiga pencarian. Korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa dengan beberapa luka di bagian wajah yang membuatnya nyaris tak dikenali.

Koordinator SAR Brebes, Waryadi mengungkapkan, korban Abu Yazid ditemukan di sungai yang ada di Desa Kubangwungu Kecamatan Ketanggungan. Korban ditemukan di lokasi yang jaraknya sekitar 20 kilometer dari lokasi ia tenggelam di Desa Sindangjaya Kecamatan Ketanggungan. Korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke puskesmas terdekat untuk proses visum.

“Korban ditemukan siang tadi dan langsung dibawa ke puskesmas untuk proses visum. Kemudian langsung dibawa ke rumah duka,” ungkapnya. Kamis (17/2) sore.

Waryadi menuturkan, pencarian korban dilakukan oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari SAR Brebes, TNI/Polri, BPBD Brebes, Damkar, Banser, dan Pramuka. Bahkan, Basarnas Cilacap juga turut melakukan pencarian korban yang dibantu warga sekitar. Operasi SAR gabungan ini melibatkan berbagai unsur dengan cara susur sungai dari darat dan air.

“Selama beberapa hari ini pencarian korban terus diperluas jaraknya. Hari pertama sekitar sembilan kilometer dari lokasi kejadian. Hari kedua pencarian ditambah empat kilometer. Sekarang hari ketiga korban ditemukan di lokasi yang jaraknya 20 kilometer dari lokasi kejadian,” kata Waryadi.

Diketahui, korban adalah sepasang suami isteri asal Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Mereka dilaporkan hanyut di sungai Cikamuning Kecamatan Ketanggungan pada saat keduanya tengah menyebrangi sungai yang saat itu deras, sehingga terbawa arus sungai.****

Spread the love

BACA JUGA :  Buku Kumpulan Puisi "Ngapak Kepenak Nemen" Menguak Punahnya Bahasa Lokalan

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.