Suara Adzan di Indonesia Disoroti Media Asing, Ini Aturan Penggunaan Pengeras Suara Masjid

ARAHPANTURA – Media asing berbasis di Paris Prancis, Agence France-Presse (AFP) menerbitkan artikel tentang suara adzan di Jakarta. Sontak, artikel ini membuat heboh para pengguna internet di Indonesia.

Media AFP memuat artikel dengan judul yang agak kontroversial. “Piety or noice nuisance? Indonesia tackles call to prayer volume backlash,” yang artinya “Ketaqwaan atau Gangguan Suara?”

Isi dalam artikel tersebut menyatakan bahwa ada seorang perempuan berusia 31 tahun yang berdomisili di Jakarta yang disebut sebagai Muslimah.

Muslimah mengalami gangguan kecemasan hingga tidak bisa tidur, merasa mual saat makan dan takut untuk mengadukan suara adzan dari masjid dekat rumahnya.

“Tidak ada yang berani untuk komplain soal itu di sini,” kata wanita itu.

Baca Juga: Mobil Dibobol Saat Ditinggal Sholat Jumat di Jalur Pantura Brebes, Begini Modusnya

“Pengeras suara tidak hanya digunakan untuk azan, tetapi juga untuk membangunkan orang 30-40 menit sebelum Subuh,” kata wanita itu kepada AFP. Wanita itu telah menderita gangguan ini selama enam bulan.

Sebenarnya seperti apa aturan penggunaan pengeras suara di masjid?

Dalam Instruksi Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam, Kementerian Agama Nomor KEP/D/101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, langgar dan Mushola, diatur sebagai berikut:

Aturan Kegunaan : 

1. Speaker luar digunakan untuk Adzan sebagai penunjuk waktu sholat
2. Speaker dalam digunakan untuk doa dengan tidak meninggikan suara
3. Mengutamakan suara yang merdu dan mengalir serta tidak meninggikan suara

Penggunaan waktu : 

1. Subuh
– Sebelum subuh diperbolehkan menggunakan pengeras suara minimal 15 menit sebelum waktu

– Pembacaan Al Quran hanya dengan pengeras suara keluar

– Adzan subuh menggunakan pengeras suara keluar

– Sholat Subuh, Ceramah Subuh dan sebagainya menggunakan speaker dalam

2. Dzuhur dan Jum’at
– 5 menit sebelum dzuhur dan 15 menit sebelum Sholat Jumat diisi dengan bacaan Al-Qur’an yang dengan suara keluar, serta suara adzan.

– Sholat, Doa, pengumuman, khotbah, menggunakan pengeras suara ke dalam.

3. Ashar, Maghrib dan Isya
– 5 menit sebelum adzan dianjurkan untuk membaca Alquran.

– Azan dengan pengeras suara ke luar dan ke dalam

– Setelah adzan, gunakan pengeras suara dalam.

4. Takbir, Tarhim dan Ramadhan
– Takbir Idul Fitri / Idul Adha dengan pengeras suara keluar.

– Tarhim doa dengan pengeras suara ke dalam dan tarhim dzikir tanpa pengeras suara.

– Pada siang dan malam Ramadhan, pembacaan Alquran menggunakan pengeras suara ke dalam.

5. Hari Besar Islam dan Kajian
– Pengajian dan tabligh hanya menggunakan pengeras suara ke dalam, kecuali jemaah banyak di luar.

Itulah aturan dan tuntutnan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, langgar dan Mushola.***

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *