Tarian Mistis Kesenian Janturan, Bertahan di Tengah Pandemi

Kesenian Janturan yang berbau mistis. /Arah Pantura

ARAH PANTURA, TEGAL – Kesenian Janturan atau lebih dikenal dengan kuda lumping ternyata sangat berkaitan erat dengan hal-hal yang berbau supranatural.

Dimana atraksi penari janturan, paling ditunggu penonton saat berpentas yakni saat penari mulai kerasukan. Ini seperti yang dilakukan sekelompok penari janturan asal Desa Dukuh Tengah Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal yang tampil di Obyek Wisata Lembah Rembulan Desa Rembul Kecamatan Bojong, Sabtu (13/3) kemarin

Tarian berbau mistis ini menggunakan media kuda yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit sapi dengan dihiasi rambut tiruan yang digelung atau dikepang.

Untuk membuat penari janturan bisa kerasukan sejumlah pawang menyiapkan berbagai sesaji dan sejumlah makanan.

Seorang pawang janturan, Sudarso (68) mengatakan Kesenian Janturan yang ditampilkan menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan dan kekuatan magic, seperti saat memakan umbi-umbian mentah, batang tebu serta kekebalan tubuh saat dicambuk.

Pawang seni janturan saat memberikan umbi mentah kepada penari. /Arah Pantura

Pawang seni janturan saat memberikan umbi mentah kepada penari. /Arah Pantura

“Biasanya saat mulai kesurupan para penari tiba-tiba jatuh dan kaku saat diberdirikan tubuhnya. Semakin cepat tempo gamelan para penari pun akan semakin lincah melakukan atraksi,” ujarnya.

Menurutnya atraksi janturan menjadi hiburan tersendiri bagi warga di kaki Gunung Slamet lantaran semenjak pandemi nyaris tidak ada pertunjukan seni. Sehingga saat kesenian asal Banyumasan ini ditampilkan penonton membludak.

Sebelum masa pandemi Kesenian Janturan sering dipanggil pementasan yang dimana setiap tampil bisa mendapatkan bayaran hingga Rp. 2 juta.

“Namun saat ini sepi dan kami hanya mengandalkan bayaran dari saweran penonton,” ungkapnya.

BACA JUGA :  PDIP Brebes Mulai Ancang - Ancang Kejar Target Raih Separuh Kursi Dewan

Kesenian ini akan terus dilestarikan agar tidak punah meski memasuki jaman milenal. Untuk itu sejumlah anak-anak remaja dilatih meski membutuhkan waktu sekitar 2 bulan agar mereka bisa menjadi penari.

“Paling tidak kami merekrut remaja supaya kesenian ini bisa bertahan,” pungkasnya.***

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.