Tim Pidsus Kejati Jabar Geledah PT PG Rajawali II, Ini Barang Bukti yang Disita

ARAHPANTURA, CIREBON – Penggeledahan oleh Tim Pidsus Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat di kantor PT PG Rajawali II di Jl Dr Wahidin Sudirohusodo, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Rabu (24/11/20210), selesai sekitar pukul 19.40 Wib. Penggeledahan dilakukan sejak pukul 10.00 Wib.

Penggeledahan itu terkait dugaan tindak pidana korupsi dalam pengeluaran Delivery Order (DO) gula antara PT PG Rajawali II dengan PT Mentari Agung Jaya Usaha (MAJU) pada tahun 2020.

Kepala Seksi Penerangan Hukum, Dodi Gazali Emil mengatakan, dalam penggeledahan tersebut tim yang diketuai Koordinator Pidsus Kejati Jabar, Dr. Raymond Ali bersama Kasi Penyidik, Daniel de Rozari dan anggota tim penyidik, menyita sekitar delapan puluhan dokumen dan satu unit PC yang terkait dengan dugaan tindak pidana yang saat ini sedang disidik oleh Kejati Jabar.

“Kejati Jawa Barat telah meningkatkan status penyelidikan terkait adanya dugaan tindak pidana korupsi dalam pengeluaran Delivery Order (DO) gula antara PT PG Rajawali II dengan PT Mentari Agung Jaya Usaha (MAJU) pada 2020 ke tingkat penyidikan,” kata Dodi.

Baca Juga: Diduga Korupsi DO Gula 5000 ton, Kejati Jabar Geledah PT PG Rajawali II

Lanjutnya, penyidikan tersebut berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat Nomor Print- 1084/M.2.1/Fd.1/10/2021 tanggal 21 Oktober 2021.

Dodi menjelaskan, dugaan tindak pidana korupsi tersebut terjadi sekitar November hingga Desember 2020, yang diduga terjadi penyimpangan dalam Pengeluaran Delivery Order Gula di PT PG Rajawali II.

Masih dikatakan Dodi, dalam pengeluaran Delivery Order Gula tersebut dilakukan tanpa memperhatikan prinsip good corporate governance (Keputusan Direksi PT PG Rajawali II tentang mekanisme penjualan gula dan beberapa ketentuan SOP lainnya) antara PT PG Rajawali II dengan PT MAJU pada perusahaan ini mengetahui dana tidak tersedia.

“PT MAJU kemudian mengeluarkan tiga lembar cek kosong sebagai penyetoran pembayaran gula dan tanpa dilakukan pengecekan terlebih dahulu, PT PG Rajawali II menerbitkan Delivery Order gula yang berakibat keluarnya gula sebanyak 5.000 ton. Sehingga, negara diduga mengalami kerugian sebesar lebih kurang Rp 50 milyar,” pungkas Dodi.***

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *