Wisata Telaga Ranjeng, Cagar Alam yang Miliki Mitos Ini

ARAHPANTURA , BREBES – Telaga Ranjeng merupakan sebuah telaga yang berada di Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan Kabupaten Brebes. Telaga ini telah ditetapkan oleh seorang Gubernur Hindia Belanda ditahun 1925 sebagai cagar alam, dan kini pengelolaannya dimiliki Perhutani Pekalongan Timur.

Telaga Ranjeng, yang berada diketinggian 2000 meter diatas permukaan laut, menurut Wijanarto, seorang budayawan asal Kabupaten Brebes, memiliki luas 18,5 hektar yang dikelilingi hutan lindung seluas 51 hektar dengan didominasi oleh pohon pinus dan pohon damar itu, terletak di kawasan kaki Gunung Slamet.

“Setelah Telaga Ranjeng ditahun 1925 telah ditetapkan sebagai cagar alam oleh seorang Gubernur Hindia Belanda. Ditahun 2004, Telaga ini ditetapkan kembali oleh Menteri Kehutanan sebagai Cagar Alam,” jelas Wijanarto, Sabtu ( 06/11).

Wijanarto yang juga menjabat sebagai Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
(Dinparbud) Brebes, juga menambahkan jika Telaga Ranjeng, memiliki keindahan alam yang sangat eksotis.

Baca Juga:Uang Logam di Tenggorokan Fatan Akhirnya Bisa Dikeluarkan, Setelah Dilakukan Ini

‘Bentang alam Telaga Ranjeng, tidak hanya terdapat kekayaan fauna saja, akan tetapi terdapat juga floranya. Bahkan, hasil penelitian Yuniarso, ditempat itu memilik renjeng 40 spesies tanaman, dan 23 spesies fauna atau hewan,” ujarnya.

Budayawan Pantura itu juga menjelaskan, jika penuturan masyarakat Desa Pandansari, Telaga ranjeng memiliki ekologi kebudayaan yang menarik, dimana telaga renjeng tidak hanya sebagai cagar alam, tetapi juga sebagai rana ibu kebudayaan yang oleh masyarakat Desa Pandansari sangat dihormati. Karena adanya mitologi yang berkembang hingga saat ini terkait mitos ikan lele yang menjadi ikon dari Telaga Ranjeng.

‘ Warga setempat meyakini jika disana ikan Lele ditempat itu telah menjadi dampyak makhluk halus, dari mulai ratu wanora yang berwujud kera putih, ular berkepala manusia, dan lain sebagainya,’ ungkapnya.

Bahkan, sejak puluhan tahun silam yang ada di Telaga Ranjeng yaitu adanya ikan lele yang mencapai ribuan bahkan jutaan ikan lslet. Namun Wijanarto menerangkan jika sejak tahun 2008 yang lalu ikan lele mengalami penurunan, dan kini banyak yang terlihat dari kasap mata pengunjung, banyaknya munculnya ikan jenis lain, seperti ikan emas dan ikan klaper yang bentuknya seperti ikan mujaher.

“Ada beberapa hal yang menjadi penurunan ikan lele tersebut, yaitu satu ikan lele bersifat kanibal atau pemakan sesama, adanya proses migrasi ke daerah lainnya,” ucapnya.

Bahkan ditempat ini dipercaya adanya larangan bagi pengunjung di Telaga Ranjeng untuk tidak memperlakukan ikan ikan secar tidak pantas, apalagi sampai mengambilnya untuk dibawa pulang.

“Menurut mitos warga disitu, pamali bagi pengunjung memperlakukan ikan. Pernah ada pengunjung mengambil ikan dan memegangny,a kemudaian ikan tersebut dilempar lagi ke dalam air telaga, sampai rumah pengunjung itu memperoleh mimpi buruk,” tuturnya

‘Ada juga pengunjung yang mengambil ikan dan membawanya pulang untuk dimasak, dimana menurut cerita warga orang tersebut akhirnya mendapatkan musibah yang berakibat fatal,” pungkasnya.

Sementara salah seorang pengunjung Nugroho asal Kabupaten Pekalongan, mengaku jika obyek wisata ini sangat eksotis dan terlihat masih perawan. Apalagi ikan ikan yang tumbuh di air telaga, berbeda dengan ikan sejenis pada umumnya.

“Saya sangat kagum melihat keindahan telaga disini yang begitu terlihat masih alami, apalagi ikan ikan mau mendekat saat dikasih roti, dengab ukuran ikan ikan yang sangat besar,” kata Nugroho.

Spread the love

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *